MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Nabi Muhammad SAW dilahirkan di Mekkah dan beliau wafat di Madinah, mulai sejak zaman jahiliyah sampai pada masa sahabat beliau, tidak pernah ada acara untuk memperingati Kelahiran Junjungan Nabi Kita Muhammad SAW, dengan alasan apapun. Bahkan ketika Khalifah Umar bin al-Khaththab bermusyawarah mengenai sesuai yang sangat penting dengan para sahabat, yakni mengenai perlunya penanggalan Islam, mereka hanya mengemukakan dua pilihan, yakni memulai tahun Islam dari sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul atau sejak Beliau hijrah ke Madinah. Akhirnya, pilihan Khalifah Umar yang disepakati para sahabat jatuh pada yang terakhir. Khalifah Umar beralasan, Hijrah adalah pembeda antara yang haq dan yang batil (ath-Thabari, Târîkh ath-Thabari, 2/3). Saat itu tidak ada seorang sahabat pun yang mengusulkan tahun Islam dimulai sejak lahirnya Nabi Muhammad Saw.
Demikian pula ketika mereka bermusyawarah tentang dari bulan apa tahun Hijrah dimulai, mereka pun hanya mengajukan dua alternatif, yakni bulan Ramadhan dan bulan Muharram. Pilihan akhirnya jatuh pada yang terakhir, karena bulan Muharram adalah bulan ketika orang-orang kembali dari menunaikan ibadah haji, dan Muharram adalah salah satu bulan suci (ath-Thabari, ibid.). Saat itu pun tidak ada yang mengusulkan bulan Rabiul Awwal, bulan lahirnya Rasulullah Saw, sebagai awal bulan tahun Hijrah.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak bermakna apa, karena beliau juga sebagai manusia dan hamba Allah kalau beliau tidak di angkat sebagai Nabi dan Rasul dan Rahmat bagi seluruh Alam, maka dari itu layak jika kita sebagai pengikut Beliau untuk memperingati kelahiran beliau, pengagungan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad Saw, yang antara lain diekspresikan dengan Peringatan Maulid Nabi Saw, sejatinya merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Muhammad Saw adalah kekasih-Nya. Jika memang demikian kenyataannya maka kaum Muslim wajib mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad Saw dalam seluruh aspek kehidupannya, bukan sekadar dalam aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja.
Peringatan Maulid Nabi SAW sebagai momentum bagi kaum Muslim untuk terus berusaha melahirkan kembali masyarakat Islam sebagaimana yang pernah dibidani kelahirannya oleh Rasulullah Saw di Madinah. Sebab, siapapun tahu, masyarakat sekarang tidak ada bedanya dengan masyarakat Arab pra-Islam, yakni sama-sama Jahiliah. Sebagaimana masa Jahiliah dulu, saat ini pun aturan-aturan Islam tidak diterapkan.
Ada seorang sahabat bertanya kepada Nabi tentang puasa beliau pada hari senin beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadist ini bahwa kita perlu sekiranya memperingati hari kelahiran Beliau bahkan hari kelahiran kitapun perlu diperingati sebagai tanda kita bersyukur, maka kita sudah sepantasnya untuk mensyukuri hari kelahiran beliau. Berkata Abbas bin Abdulmuttalib RA : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul SAW menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas RA memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai Nabi SAW) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417).

Satu Tanggapan

  1. Bagaimana Hukumnya Orang yang memperingati Maulid Nabi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: